Keramik Mampu Reduksi Panas Exhaust Manifold Hingga 40 Persen

Keramik Mampu Reduksi Panas Exhaust Manifold Hingga 40 Persen


OTOMOTIFNET - Mendengar istilah keramik, bayangan kita langsung tertuju kepada produk ubin atau hiasan rumah macam guci atau pot. Padahal, unsur alam yang berasal dari bahasa Yunani ini (keramikos) memiliki potensi lebih dari sekadar alas lantai atau pajangan di rumah.

Sifat material keramik yang mampu bertahan pada suhu ekstrem, kini mulai banyak digunakan untuk industri otomotif. Toyota menjadi salah satu ATPM dunia yang pernah membuat mesin dengan bahan dasar keramik pada 1980-an.

Mesin keramik buatannya mampu digeber hingga 3.300ºC tanpa sistem pendinginan air. Sama halnya dengan bahan dasar cakram rem besutan F1 yang mampu bertahan hingga suhu 1.000ºC.

Keunggulannya dalam menahan suhu panas cukup ekstrem ini, lantas dimanfaatkan sebagai heat sink atau heat reducer oleh beberapa produsen. Salah satu yang populer di kalangan pehobi otomotif adalah exhaust manifold dengan lapisan keramik pada besutan balap maupun harian dan menjanjikan hasil yang ciamik.

Ternyata, penerapan material keramik di exhaust manifold memiliki banyak manfaat. Faith Autoservice yang bermarkas di Cipinang, Jakarta Timur, sudah membuktikannya sendiri. “Performa dan akselerasi meningkat tajam karena penurunan suhu mesin yang cukup drastis di area engine bay,” jelas Frans Manuel dari Faith Autoservice.

Balik ke falsafah mesin pembakaran dalam, musuh laten sebuah mesin adalah suhu panas yang ditimbulkan mesin itu sendiri. Semakin panasnya suhu mesin akan menyebabkan turunnya tenaga dan performa mesin secara spontan. “Makanya pada tahap ekstrem, mesin yang overheating langsung ngelitik saat digas karena performa yang jeblok tadi,” tandas Frans lagi.

Beberapa fakta di lapangan, sebuah exhaust manifold bisa menyemburkan panas hingga suhu 360ºC. “Ilustrasi ini terjadi pada mobil yang selesai digeber sepanjang jalan tol Jagorawi pada kecepatan 120 km/jam di siang hari yang terik,” jelas Bayu Aji, tim marketing Faith Autoservice.

Bisa dibayangkan penurunan tenaga dan akselerasi yang terjadi pada saat suhu kerja mesin mencapai titik 360ºC. Setelah exhaust manifold dibungkus dengan keramik, terjadi penurunan suhu kerja mesin menjadi 215ºC. “Dengan komposisi muatan dan jarak yang sama, Kijang kapsul bensin yang tadinya hanya sanggup digenjot 120 km/jam mampu top speed 145 km/jam setelah exhaust dibungkus keramik,” terang Bayu Aji.

Pertanyaan selanjutnya, seperti apakah ‘selimut’ keramik yang mampu mereduksi panas exhaust manifold hingga 40% tadi? Frans yang memiliki rahasia dari proses pengerjaan ceramic coating ini hanya membeberkan sedikit, untuk mengusir rasa penasaran. Metodenya menggunakan teknik spray alias semprot. Bahasa kerennya thermal coating karena pada proses pengerjaannya memakai semprotan yang menyemburkan panas (api).

Bubuk atau ceramic powder yang sudah diracik dengan berbagai macam bahan kimia ini, disemprotkan dengan suhu ideal 70ºC langsung ke bidang yang akan dicoating. Tentunya setelah permukaan obyek sudah dibersihkan dan bebas dari kotoran seperti karat atau minyak (oli). Proses pendinginan menacapai 7-10 jam sampai bubuk keramik benar-benar menempel dengan baik.

Teknik penyemprotan pun tak bisa pakai kompresor biasa karena pressure (tekanan) angin yang dipakai menyembur adonan bubuk keramik mencapai 3.500 psi untuk menghasilkan ketebalan coating 300 micrometer.

Cara standar ini, selimut keramik sanggup bertahan hingga 2 tahun sampai akhirnya dianggap expired. “Proses pengerjaan coating yang kami lakukan, sanggup menahan panas hingga 1.600ºC,” jelas Frans sembari menunjukkan price list antara Rp 2-2,5 juta.

Sumber :

http//:otomotifnet.com/read/xml/2009/11/3